suplemenGKI.com

Kamis, 16 Juni

2 Korintus 13:1-10

Berada di tengah kelompok yang tidak mempercayai kita bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Apalagi kalau kelompok tersebut juga mulai menyerang serta menggerogoti kewibawaan kita. Lalu, bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen? Rasul Paulus juga pernah mengalami hal yang sama, dan itulah yang menjadi bahan perenungan kita hari ini.

- Pernahkah Saudara menjumpai saudara seiman yang jatuh ke dalam dosa? Apakah Saudara membimbing orang tersebut kembali kepada Tuhan? Mengapa? Coba jelaskan.

- Apakah maksud rasul Paulus ketika berkata, “aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi” (ay. 2)? Mengapa ia berkata seperti itu?

- Mengapa rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus disalibkan oleh karena kelemahan (ay. 4), bukan oleh karena dosa manusia?

Renungan:

Melalui surat 1 Korintus kita mengetahui bahwa gereja Korintus adalah gereja yang mengalami banyak masalah. Masyarakat Kristen di Korintus terpecah-pecah menjadi beberapa golongan berdasarkan public figure yang mereka kagumi; ada yang mengunggul-unggulkan Apolos, Paulus, Petrus, dsb. Kemudian ada pertanyaan-pertanyaan teologis yang menjadi bahan diskusi seru, misalnya saja: apakah mereka boleh berbelanja di pasar-pasar daging yang dihubungkan dengan kuil dan penyembahan berhala? Apakah wanita yang cakap boleh mengambil bagian dalam kebaktian; karena kebudayaan pada waktu itu wanita Yunani sudah jauh lebih bebas daripada wanita Yahudi. Selain itu masih masalah moral, termasuk dosa seksual, juga menjadi persoalan tersendiri di dalam kehidupan gereja Korintus. Bukanlah suatu hal yang menggembirakan kalau kemudian ternyata bahwa situasi yang runyam itu masih terus berlanjut. Dan lebih memprihatikan lagi kalrena ada masalah baru yang muncul, yaitu munculnya ‘rasul yang luarbiasa’ yang tampil ke depan untuk mencoba merongrong kewibawaan Paulus sebagai rasul dan berkata yang tidak-tidak (2Kor 10 – 13).

Menghadapi situasi yang demikian ini rasul Paulus mengingatkan Jemaat Korintus akan prinsip yang sudah diajarkan Alkitab di mana dibutuhkan kesaksian dari dua atau tiga orang untuk menyampaikan suatu tuduhan. Ini sebenarnya adalah prinsip umum yang diajarkan di dalam Alkitab (Ula 1219) dan kemudian juga masih nampak berkembang pada jaman gereja mula-mula, sebab prinsip ini masih disebut di beberapa bagian Kitab Suci, misalnya: Yoh. 8:17; 1Tim. 5:19; Ibr. 20:28; 1Yoh 5:8). Selain itu rasul Paulus juga mengingatkan bahwa dia akan bertindak tegas apabila tiba waktunya nanti. Sebenarnya hal ini sudah disampaikan Paulus sebelumnya, tapi kalau mereka tetap dengan sikap dan tindakannya, maka Paulus tidak akan menyayangkan mereka lagi. Kata “menyayangkan” di sini juga dapat diartikan sebagai menahan diri. Dengan kata lain, Paulus menegaskan bahwa kalau selama ini dia belum mengambil tindakan tegas, itu bukan berarti karena dia tidak berani atau tidak memiliki otoritas, tetapi karena dia telah menahan diri, dengan harapan agar mereka bertobat. Namun apabila mereka tetap tidak bertobat, maka Paulus tidak akan menahan dirinya sendiri lagi untuk mengambil tindakan yang diperlukan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*