suplemenGKI.com

Kamis, 20 Januari 2011; 1 Korintus 1:10-18

Jemaat Korintus adalah jemaat yang didirikan Paulus pada saat Paulus melakukan perjalanan misinya yang kedua. Kerinduan Paulus ialah agar jemaat Korintus senantiasa menghayati panggilannya sebagai Jemaat yang dipanggil oleh ALLAH untuk menjalani kehidupan kudus di segala tempat (ayat 2). Namun demikian, beberapa bulan setelah Paulus meninggalkan Korintus , Paulus mendengar kabar yang memprihatinkan.

  • Siapakah yang membawa kabar yang memprihatinkan itu kepada Paulus? (ayat 10)
  • Kabar memprihatinkan apakah yang didengar oleh Paulus sehingga dia memandang perlu  untuk mengirim surat serta menasihati jemaat Korintus? (ayat 11-12)
  • Menanggapi kabar yang memprihatinkan itu, nasihat apakah yang diberikan oleh Paulus ? (ayat 13-18)

Renungan:

Tidak banyak informasi yang bisa kita dapat tentang siapakah orang-orang dari keluarga Kloe ini. 1 Korintus 1:10 ini adalah satu-satunya ayat yang menyebutkan tentang mereka. Namun indikasi positif tentang keluarga Kloe adalah bahwa mereka ini merupakan sebuah keluarga Kristen yang baik. Ketika mereka memberitahukan tentang keadaan jemaat Korintus kepada Paulus ialah dengan maksud yang baik untuk  membangun kehidupan jemaat. Dari sekelumit tentang keluarga Kloe, baiklah kita belajar tentang pentingnya menjadi sebuah keluarga yang baik, yang ikut berperan memikirkan pertumbuhan bagi jemaat/gereja kita.

Informasi yang diterima Paulus ialah bahwa jemaat Korintus  saat itu nyaris berada dalam jurang kehancuran akibat adanya perpecahan. Tentu saja hal ini mengundang keprihatinan yang mendalam karena jemaat Korintus mulai berbelok dari kehidupan Theosentris dan mengidolakan orang-orang tertentu serta menjadi bangga karena masuk ke dalam golongan tertentu. Ada yang mulai menyombongkan diri karena masuk ke dalam golonganApolos; ada yang begitu arogan karena merasa menjadi golongan Kefas; serta ada yang begitu bangganya karena merasa menjadi golongan Paulus. Selain prihatin, jelas Paulus menolak tegas sikap pengkotak-kotakan seperti itu karena  hal  itu hanya menjadi pemicu perilaku jemaat yang saling merendahkan dan menganggap diri atau kelompoknya saja yang terhebat. Apa yang terjadi dalam jemaat Korintus semestinya menjadi introspeksi bagi kita sebagai jemaat. Jangan sampai kita mengalami sikap dan kesalahan yang sama, misalnya ketika kita mulai  mengkultuskan salah seorang hamba TUHAN di gereja dan tidak memandang hormat pada hamba TUHAN yang lain. Karena jika itu terjadi maka cepat atau lambat gereja kitapun akan terancam hancur.

Melihat situasi jemaat Korintus yang mengalami perpecahan itu, Paulus menegaskan bahwa Kristuslah satu-satunya yang layak menjadi pusat pemberitaan Kabar Baik, pusat yang mempersatukan; dan demi Nama yang diberitakan itu, jemaat tidak boleh terkotak-kotak (ayat 10). Paulus juga mengingatkan jemaat bahwa pusat pemberitaan para pemberita Injil juga adalah Kristus yang disalib dan bangkit. Pemberitaan Injil akan sulit dijalankan jika tidak mengandalkan campur tangan Tuhan secara penuh(ayat 17-25). Paulus memberikan teladan kepada kita, bagaimana gejala perpecahan dalam kumpulan jemaat perlu dikenali, diungkapkan, dan diarahkan Kristus sebagai pusat.  Semoga nasihat Paulus ini tidak hanya berlaku bagi jemaat Korintus, tapi biarlah kita yang menjalani kehidupan sebagai jemaat Kristus di zaman sekarang sungguh dapat menjadi pelaku atas nasihat Paulus ini.

“Ketika pusat hidup jemaat berbelok arah dari ALLAH,

maka tuaian yang didapat adalah situasi dan kondisi yang terpecah belah”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*