suplemenGKI.com

Rabu, 15 Juni

Mazmur 8

Mengambil waktu untuk merenungkan siapa diri kita adalah suatu hal yang sangat penting. Tatkala kita lupa siapa diri kita, akan membuat orang menjadi lupa diri, bahkan tidak tahu diri. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat melakukan perenungan dengan tepat serta menghasilkan gambaran diri yang tepat pula? Pemazmur telah memberikan teladan yang patut kita ikuti jejaknya.

- Pengenalan akan Allah yang seperti apakah yang dimiliki oleh Pemazmur? Bagaimanakah pemahaman Saudara sendiri?

- Pengenalan akan diri yang seperti apakah yang dimiliki oleh Pemazmur? Bagaimanakah pemahaman Saudara sendiri?

- Adakah keterkaitan di antara kedua pengenalan tersebut? Mengapa? Coba jelaskan!

Renungan:

Mazmur 8 ini adalah sebuah mazmur kontemplatif, di mana Pemazmur merenungkan keagungan dan kemuliaan Allah. Hal ini nampak jelas dari struktur Mazmur yang diawali dan diakhiri dengan kalimat yang sama, yaitu “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”

Sikap Pemazmur dalam mengagungkan dan memuliakan Tuhan ini didasarkan pada dua hal. Pertama adalah pengenalan Pemazmur akan Allah. Pemazmur sangat memahami tentang kemahakuasaan Allah, yang kemudian digambarkan dengan “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam” (ay. 3). Pada umumnya, untuk melawan kekuatan musuh kita membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang dimiliki lawan. Namun di sini Pemazmur memberikan gambaran yang sangat kontras, yaitu bahwa Allah telah membekali bayi dan anak-anak yang masih menyusu, bukan membekali para pahlawan, jagoan atau minimal pemuda. Pengenalan Pemazmur akan kemahakuasaan Allah ini menghantar Pemazmur pada landasan kedua untuk mengagungkan dan memuliakan Allah, yaitu pengenalan akan dirinya sendiri.

Membandingkan diri dengan ciptaan Tuhan yang lainnya, langit, bulan dan bintang-bintang, Pemazmur menyadari betapa tak berdayanya dia di hadapan Allah. Pada jaman itu langit, bulan dan bintang adalah benda-benda yang dianggap luar biasa, bahkan diperlakukan secara khusus. Banyak bangsa yang sujud menyembah benda-benda tsb. Hal ini kian membuat Pemazmur merasa semakin kecil.

Meskipun demikian, pengenalan Pemazmur akan dirinya sendiri itu tidak berakhir pada perasaan tak berharga karena tiada daya. Sebaliknya, Pemazmur merasa diri sebagai pribadi yang sangat beruntung dan berharga. Sebab Allah yang mahakuasa itu telah mempedulikan ciptaan yang tak berdaya itu, bahkan telah mengangkat manusia sedemikian rupa sehingga menjadi hamper sama seperti Allah, serta memberi kemuliaan dan hormat kepadanya. Betapa tidak, manusia telah diangkat sebagai penguasa atas segala hasil karya Allah. Hal ini merujuk pada mandat yang telah Allah berikan kepada manusia pada waktu penciptaan, “”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej. 1:27)

Pengenalan Pemazmur akan Allah membuat dia lebih mengenal siapa dirinya yang sebenarnya, dan kedua hal itu membuat Pemazmur merendahkan diri serta sujud kepada Allah sambil berkata, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*