suplemenGKI.com

Sabtu; 4 Desember 2010; Matius 3:7-12

Munculnya Yohanes Pembaptis nampaknya bukan hanya menarik perhatian penduduk Yerusalem dan Yudea, tetapi juga orang Farisi dan Saduki. Kedua kelompok ini merupakan kelompok keagamaan yang besar pada jaman itu. Pertemuan tersebut menimbulkan interaksi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Oleh sebab itu mari kita cermati bersama-sama.

- Mengapa Yohanes Pembaptis menyebut orang Farisi dan Saduki yang datang dengan sebutan “keturunan ular beludak?

- Mengapa Yohanes melarang orang-orang Farisi dan Saduki untuk menyebut Abraham sebagai bapa mereka?

- Apakah maksud Yohanes ketika menyatakan bahwa kapak sudah tersedia pada akar pohon?

Renungan:

Sikap Yohanes Pembaptis terhadap orang-orang Farisi dan Saduki sangat tegas dan keras. Ia, sebagaimana juga Kristus, menyebut mereka sebagai keturunan ular beludak (bd. Mat. 12:34; 23:33). Sebab, sekalipun secara lahirah mereka memiliki penampilan yang menawan, tetapi batiniahnya  mengerikan. Mereka tertipu oleh bapa penipu, sehingga menjadi kuburan yang dilabur putih. Tapi mereka tidak menyadari hal itu. Dalam ketidaksadarannya tersebut mereka kemudian juga menipu, memutarbalikkan kebenaran sedemikian rupa demi kepentingan diri sendiri. Salah satu contohnya adalah mereka tidak mau memelihara orang tua mereka dengan alasan uang yang seharusnya dipakai untuk memelihara orang itu sudah dipersembahkan kepada Allah.

Perilaku orang Farisi dan Saduki yang sedemikian ini membuat Yohanes memperingatkan dengan keras, bahwa ada murka yang sedang menanti mereka. Mereka tidak akan dapat lolos dari penghukuman tersebut. Peringatan yang keras ini sebenarnya mengajak mereka untuk bertobat. Yohanes tidak langsung membaptiskan mereka, sekalipun mereka datang untuk dibaptis (ay. 7), tetapi memberikan pengarahan terlebih dahulu. Yohanes pembaptis menjelaskan bahwa pertobatan sejati bukanlah pertobatan yang dinyatakan melalui tindakan-tindakan ritual, seperti baptisan, tetapi pertobatan yang sungguh-sungguh nyata dalam perbuatan sebagai buah dari pertobatan tersebut.

Seakan membaca pikiran orang-orang Farisi dan Saduki, Yohanes menegaskan bahwa keturunan Abraham secara lahiriah tidaklah membuat mereka memiliki nilai lebih di mata Allah sehingga mereka dapat lolos dari penghukuman Allah. Orang Yahudi pada umumnya merasa diri superior dibandingkan dengan bangsa lain, karena mereka umat pilihan Allah. Argumentasi ini yang kemudian dimentahkan Yohanes Pembaptis dengan menegaskan betapa dekatnya penghukuman itu. Kapak sudah tersedia pada akar pohon.

Identitas lahiriah tidaklah berarti di hadapan Allah, sebab Allah melihat hati. Alat penampi sudah di tangan-Nya, pertanda penghakiman itu sudah sedemikian dekatnya. Sudah siapkah kita menghadapinya?

“Pertobatan sejati bukanlah banyaknya tetesan air mata, melainkan sebuah kesungguhan yang lahir dari batin yang  benar-benar bertekad meninggalkan dosa”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*