suplemenGKI.com

Rabu, 19 Januari 2011; Mazmur 27:7-14

Dalam renungan kita hari ini, kita masih akan belajar teladan hidup Theosentris Daud, khususnya yang tercermin melalui doanya. Meski Daud adalah seorang yang sangat populer namun dia tetaplah seorang yang tidak sempurna, Hidupnya tak selalu mulus, bahkan acapkali dia diperhadapkan pada situasi hidup yang tidak mudah. Namun demikian, justru kesempatan seperti itulah yang terus menempanya agar dapat secara konsisten menjalani hidup yang Theosentris.

  • Bentuk-bentuk tantangan apa sajakah yang biasanya menjadi bagian dalam kehidupan Daud? (ayat 9, 10, 12)
  • Sebagai wujud tekadnya untuk hidup secara Theosentris, sikap apakah yang diambil oleh Daud ketika menghadapi pergumulan? (ayat 7, 8, 11)
  • Jaminan apa yang diyakini akan diterima dan dialami oleh Daud sehingga dia benar-benar berusaha untuk memiliki hidup yang Theosentris? (ayat 13,14)

Renungan:

Menjadi orang yang top/populer di zamannya tidaklah membuat Daud  bebas dari berbagai persoalan. Justru karena kepopularitasannya itu seringkali memposisikan Daud sebagai orang yang harus menghadapi banyak musuh/orang-orang yang tidak menyukai dan terus berupaya menjatuhkannya. Tidak mudah bagi Daud untuk menghadapi “agen-agen provokasi” atau orang-orang yang dengan sengaja membuat Daud menjadi orang yang dipojokkan, disalahkan, dan dipermalukan. Sungguh situasi-situasi semacam itu membuat Daud  seringkali gerah dan gundah dalam menghadapinya. Bukankah kehidupan Daud  itu tak jauh berbeda juga dengan kita? Dengan bentuk yang tak selalu sama, bukankah kitapun seringkali mengalami situasi dan problema hidup yang membuat kita gerah dan gundah? Bagaimanakah kita harus bersikap? Mari teladani sikap yang diambil Daud:

Meski begitu banyak pilihan yang bisa diambil untuk menghadapi situasi sulit, namun Daud benar-benar menunjukkan komitmennya untuk tetap menjalani hidupnya secara Theosentris. Itu terbaca jelas melalui doa yang dipanjatkannya.  Dalam doanya, Daud berseru memohon pertolongan kepada ALLAH (ayat 7). Melalui seruan yang dilakukannya itu, tercermin sebuah sikap percaya /iman yang teguh kepada ALLAH. Dia meyakini bahwa ALLAHlah satu-satunya yang dapat ia sandari dan sanggup meputkannya dari berbagai peliknya persoalan serta sanggup pula menuntunnya ke jalan yang rata (ayat 11), bukan kekuatan yang lain. Iman Daud  juga terus nampak bukan hanya dari kata-kata doanya. Jika kita mengamati ayat 8, kita dapat merasakan hati Daud yang sungguh ditambatkan pada kehendak dan rencana ALLAH ketika dia berkata,”wajahMu ‘ku cari ya TUHAN.” Inilah salah satu ciri khas seorang yang menjalani hidup secara Theosentris, yaitu memasang kepekaan hati dan hidupnya pada kehendak serta karya ALLAH yang tertuang melalui kebenaran FirmanNya. Sebagai seorang Kristen, apakah kita juga memiliki sikap hati seperti Daud saat menghadapi berbagai macam situasi kehidupan ini? Apakah kita adalah seorang Kristen yang benar-benar Theosentris dengan  selalu menancapkan iman pada Firman yang membawa kita menjadi seorang yang peka pada kehendak ALLAH?

Mari teladani Daud yang mengajari kita untuk hidup mempercayakan diri sepenuhnya pada pertolongan ALLAH. Daud percaya bahwa dengan memiliki hidup yang Theosentris maka dia akan mendapatkan jaminan, berupa: kehidupan yang aman (ayat 10,13) dan berbagai macam kebaikan TUHAN yang seringkali melampaui akal manusia, sehingga barangsiapa yang tetap teguh dan hanya memiliki pengharapan kepada ALLAH akan dimampukan untuk tetap  menjalani kehidupan di dunia ini.

“Kehidupan yang sungguh-sungguh berpusat kepada ALLAH

adalah kehidupan yang tidak setengah-setengah dalam berserah,

dan tetap beriman teguh meski diliputi badai masalah”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*