suplemenGKI.com

SENIN, 26 AGUSTUS 2013

AMSAL 25:6-7

PENGANTAR

Memandang diri dengan tepat sangatlah penting, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga dalam hal memupuk relasi bersama orang lain. Penilaian diri yang tidak tepat akan menjerumuskan kita pada sikap yang tidak tepat terhadap diri sendiri dan juga di hadapan orang lain.  Bukan orang lain saja yang akan dirugikan dan tersakiti, tetapi juga diri sendiri akan mendapat malu dan mengalami kehancuran.

 

PEMAHAMAN

  1. Ayat 6: Apa yang sekiranya membuat orang yang dimaksud di ayat ini berani duduk di tempat para pembesar yang tidak seharusnya ia tempati?
  2. Ayat 7: Nasihat apa yang diberikan Salomo kepada orang-orang yang bersikap demikian?

 

Bagian ini bicara tentang kedudukan seseorang dalam sebuah perjamuan. Dalam sebuah pertemuan atau jamuan, khususnya di istana raja, menduduki tempat yang lebih tinggi dari yang semestinya berisiko menuai penghinaan dari orang-orang yang hadir. Orang yang menempati tempat duduk yang bukan haknya akan kehilangan muka ketika diminta untuk mundur ke tempat yang lebih di belakang.  Kehilangan muka ini juga bisa berdampak pada masa depan karirnya.  Sebaliknya, merupakan kehormatan bila semua yang hadir dalam perjamuan mendengar undangan tuan rumah kepada seseorang untuk maju dan menduduki tempat yang lebih terhormat di bagian depan. Nasihat Amsal di bagian ini cukup jelas, yaitu lebih bijaksana menunggu untuk ditinggikan daripada menanggung risiko dan malu karena direndahkan akibat meninggikan diri sendiri.

 

REFLEKSI

Sejenak periksalah hari-hari Anda belakangan ini, apakah Anda pernah melakukan kesalahan yang sama seperti yang diceritakan Salomo: Pernahkah Anda tidak dipentingkan justru pada saat Anda merasa paling hebat? Pernahkan Anda merasa tidak dibutuhkan justru pada saat Anda merasa Anda yang paling banyak tahu dan pengalaman? Apakah Anda marah, kecewa dan malu pada saat itu?

 

TEKADKU

Ya Tuhanku, ketika aku marah dan kecewa karena pada saat aku merasa hebat tapi ternyata orang lain tidak memandang aku, mungkin ini adalah pertanda awal aku terperangkap pada kesombongan diriku sendiri. Terima kasih karena kemarahan dan kekecewaanku Engkau pakai untuk menjadi tanda bahaya agar aku kembali menempatkan diriku dengan tepat di hadapanMu dan sesamaku. Amin

 

TINDAKANKU

Ketika muncul rasa marah dan protes pada saat orang lain mempermalukan aku, aku akan memeriksa diri untuk tidak memandang diri sendiri terlalu tinggi, sehingga aku menganggap orang lain lebih rendah, lebih tidak kompeten daripada diriku.

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*