suplemenGKI.com

Rabu; 1 Desember 2010; Roma 15:1-13

Dalam bagian akhir dari suratnya ini, rasul Paulus banyak memberikan nasihat praktis sebagai buah dari iman Kristen. Adalah tanggungjawab orang Kristen untuk bertumbuh dan akhirnya berbuah. Dalam perikop kita kali ini, ada satu buah iman yang dibahas secara khusus. Buah tersebut akan kita renungkan bersama.

- Menurut Saudara, dalam hal apakah “kuat” dan “tidak kuat” yang dimaksud dalam ayat 1?

- Apakah dasar teologis dari nasihat mencari kesenangan sesama?

- Sejauh mana kita boleh mengabaikan kepentingan/kesenangan sendiri demi mencari kepentingan/kesenangan orang lain?

Renungan:

Keadaan masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang kuat, ada yang kurang kuat. Kondisi yang demikian ini dapat terjadi di semua aspek kehidupan, baik dalam hal lahiriah – batiniah, material – spiritual. Rasul Paulus menasihatkan orang percaya agar hidup dengan saling tolong menolong, yang kuat menolong yang lemah agar menjadi kuat. Dalam suratnya kepada Jemaat Galatia, rasul Paulus juga mendorong orang Kristen untuk saling bertolong-tolongan dalam menanggung beban, sebab itulah yang dikehendaki Allah.

Kehendak Allah, itulah yang menjadi landasan dalam perilaku bertolong-tolongan kristiani. Demikian pula dalam perikop ini. Rasul Paulus merujuk pada keteladanan Kristus sebagai dasar acuan nasihatnya. Kristus yang tidak mementingkan diri-Nya sendiri. Kita tidak dapat hidup dengan bertolong-tolongan bila kita hidup dengan memikirkan kepentingan diri sendiri. Bila kita memikirkan kepentingan sendiri, maka pada waktu menolong orang lain kita akan menanyakan apa untungnya bagi kita, sehingga sebenarnya bukan orang yang kita tolong itu yang menjadi pusat, tetapi diri kita sendiri. Dengan demikian maka sebenarnya Allah juga tidak dipermuliakan melalui tindakan kita menolong sesama tersebut. Sebab Allah tidak mendapat tempat di dalamnya. Tempat Allah telah ditempati oleh kepentingan kita.

Dari sini kita dapat melihat pentingnya menempatkan Allah dalam hidup saling menolong. Karena Kristus yang tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, maka kita juga seharusnya tidak mementingkan diri sendiri. Dalam tindakan yang tidak mencari kepentingan diri sendiri itu, kita juga tidak mencari kepentingan orang yang kita tolong, melainkan kepentingan Kristus atas diri orang yang kita tolong tersebut. Kita bukan hanya menolong orang itu agar apa yang dibutuhkan terpenuhi, melainkan agar orang itu dapat memahami kehendak Allah, Allah yang sedang Allah kerjakan di dalam kehidupannya. Ini berarti kita sendiri harus menjaga agar diri kita tetap hidup dalam kehendak Allah. Adalah sulit bagi kita untuk dapat menolong orang mengerti apa yang sedang Allah kerjakan di dalam hidupnya apabila kita sendiri tidak mampu untuk merenungkan sedemikian rupa agar mengerti apa yang sedang Allah kerjakan di dalam kita.

“Saat kita tidak rela untuk menyediakan ‘kursi’ di hati kita bagi ALLAH,

maka sifat pementingan diri sendiri juga akan sulit enyah”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*