suplemenGKI.com

Sabtu, 22 Januari 2011; 1 Korintus 3:10-23

Dalam bagian Alkitab yang kita baca hari ini, Rasul Paulus menggunakan metafora pendirian suatu bangunan (“bangunan Allah”-perhatikan mulai ayat 9). Dalam konteks jemaat di Korintus, Paulus mengemukakan bahwa hanya dengan anugerah ALLAH saja ia dapat meletakkan dasar jemaat (ayat 10) yang adalah Kristus (ayat 11). Karena itu, Paulus memperingatkan mereka yang sedang membangun jemaat Korintus (tidak termasuk Apolos, bdk. 16:12) di atas dasar itu untuk berhati-hati: jangan membangun jemaat dengan hal-hal yang tidak tahan uji oleh api (ayat 12).

  • Apa yang dimaksud Paulus agar jemaat jangan dibangun di atas emas, perak, batu permata, kayu kering atau jerami? (ayat 12)
  • Apa artinya jika kita disebut sebagai “bait ALLAH”? Pertanggungjawaban hidup seperti apakah yang dituntut ALLAH terkait dengan sebutan itu? (ayat 16)
  • Penerapan praktis seperti apakah yang dapat mencerminklan kehidupan jemaat yang menjadikan KRISTUS sebagai dasar bangunan? (ayat 11, 18-23)

Renungan

Jemaat Korintus berdiri karena kasih karunia ALLAH semata. Itu sebabnya Paulus berpesan dengan tegas agar jemaat selalu sadar untuk membangun jemaat di atas dasar hikmat ALLAH sendiri dan bukan  dengan dasar hikmat manusia atau hal-hal yang bersifat duniawi. Tidak ada dasar lain yang melebihi kokohnya KRISTUS, meski itu adalah emas, perak, permata (kelompok logam mulia) apalagi jika dasar itu hanyalah kayu atau jerami yang secara esensi mudah sekali  rusak,hancur dan terbakar. Apa makna metafora ini? Bahwa kehidupan jemaat haruslah fokus pada dimensi rohani dan berani berbeda secara radikal dengan hikmat duniawi. Hal ini berarti bahwa kehidupan jemaat seharusnya lekat dengan  karakter dan kualitas yang tinggi, yang sesuai standar ALLAH (menggunakan hikmat sorgawi). Apakah kehidupan kita sebagai jemaat kita telah menempatkan KRISTUS sebagai fondasi hidup dan iman kita?

Lebih lanjut Paulus juga menyadarkan jemaat Kristus untuk melihat diri mereka sebagai “bait ALLAH.” Di satu sisi sebutan ini tentu saja membanggakan mengingat jemaat TUHAN sebenarnya sama dengan manusia lain, kecil dan lemah tapi ALLAH berkenan memilih dan menjadikan mereka “baitNya”. Namun di sisi lain, istilah ini juga mengandung arti yang sangat dalam karena melalui sebutan ini jemaat dibawa untuk menyadari sebuah pertanggungjawaban iman yang tidak main-main di hadapan ALLAH. Sebagai “bait ALLAH”, jemaat bertanggungjawab untuk menjaga kualitas hidup kudus karena ALLAH Sang Pemilik Bait itu adalah kudus adanya. Sadarkah kita, bahwa sebagaimana jemast di Korintus, kitapun adalah bait ALLAH? Dan sebagai baitNya kita patut bangga karena ALLAH memilih kita. Namun di sisi lain kitapun dituntut untuk memiliki kualitas hidup kudus sebagai sebuah bentuk tanggungjawab di hadapanNya.

Saat kita bersedia mengambil komitmen dan mempersilakan KRISTUS sebagai satu-satunya dasar bagi pertumbuhan iman kita, baik sebagai pribadi atau dalam kehidupan berjemaat/bergereja, maka kita akan merasakan dorongan untuk berperilaku bijak karena kita dimampukan menyerap hikmat yang dari ALLAH. Dan hal yang sedemikian akan menolong kita untuk menjalani hidup tidak egois dan angkuh, melainkan belajar memiliki hati yang merendah dan terus menerus tunduk pada kehendak ALLAH saja. Alangkah indahnya jika jemat KRISTUS menjadikan hal ini sebagai penerapan praktis dalam kehiduypan setiap hari.

“Percayalah, bangunan iman kita akan tetap kukuh,

saat kita menjadikan KRISTUS sebagai satu-satunya dasar yang teguh”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

  • Christofel Nanlohy says:

    Sangat menguatkan saya dalam pelayanan di pedalaman Papua… Dasar kehidupan Kristen orang papua perlu dikuatkan ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*