Jumat, 17 Juni

2 Korintus 13:11-13

“Gereja itu seharusnya begini, begini, dan begini”. Setiap kita pastilah memiliki gambaran gereja yang ideal. Sayangnya seringkali keadaan gereja tidak seperti yang kita pikirkan, bahkan kadang masih jauh dari harapan. Tapi ada pelajaran berharga dalam bagian penutup surat Korintus yang kedua ini. Mari kita renungkan bersama.

- Menurut Saudara, apakah manusia bisa memiliki kesempurnaan? Lalu, mengapa rasul Paulus meminta agar orang Kristen menjadi sempurna? Dalam arti bagaimanakah kesempurnaan itu?

- Siapakah yang dimaksud dengan orang kudus di sini? Adakah hubungan antara cium kudus dengan orang kudus? Bagaimanakah menerapkan cium kudus pada masa kini?

- Mengapa di akhir suratnya rasul Paulus menyebut Tuhan Yesus Kristus, Allah dan Roh Kudus sekaligus?

Renungan:

Dalam mengakhiri suratnya rasul Paulus mendorong Jemaat Korintus “usahakanlah dirimu supaya sempurna”. Kata “sempurna” di sini juga dapat diartikan sebagai dipulihkan. Rasul Paulus bukan hanya berharap bahwa Jemaat Korintus yang sudah tercabik-cabik oleh dosa dan pertikaian itu mau membuka serta merendahkan diri untuk dipulihkan, tetapi juga secara aktif mengambil tindakan yang memulihkan diri mereka sendiri. Nampaknya ini terkait dengan nasihat berikutnya, di mana Paulus meminta agar Jemaat Korintus dapat sehati dan sepikir, mengesampingkan segala perbedaan dalam rangka fokus mencari kedamaian. Hal ini tidak berarti bahwa kita mengabaikan konflik yang ada, tapi memprioritaskan hidup damai sedemikian rupa sehingga tidak memusingkan masalah-masalah kecil. Ini juga sekaligus berarti kita perlu belajar mengampuni serta berbesar hati. Dalam masalah-masalah prinsip mari kita selesaikan dengan kepala dingin dan hati yang penuh kasih, sedangkan dalam masalah-masalah yang tidak prinsip, marilah kita belajar untuk saling menghargai. Hanya dalam hidup damai itulah kita dapat disebut memiliki persekutuan dengan saudara seiman. Dan seperti yang diungkapkan Pemazmur, di mana saudara duduk diam bersama dengan rukun, ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya (Maz. 133:3).

Dalam konteks persekutuan yang harmonis itulah kita didorong untuk saling memberi salam dengan cium kudus. Adalah tradisi dalam kehidupan di Timur Tengah untuk memberi salam sambil memeluk dan mencium. Ini adalah ekspresi keramahan dalam sebuah konteks budaya yang belum tentu sesuai pada budaya lain. Dan yang terpenting bukanlah mempertahankan bentuknya, melainkan maknanya, yaitu menyatakan keramahan. Selain itu juga patut kita perhatikan bahwa Paulus memberi atribut “kudus”. Untuk memahami hal ini, kita dapat mengingat bagaimana cium yang tidak kudus itu, yakni salam cium Yudas kepada Tuhan Yesus di taman Getsemani. Keramahan sejati adalah keramahan yang kudus, tulus dan bagi kemuliaan Allah Tritunggal.

Istilah “Tritunggal” atau “Trinitas” memang tidak terdapat dalam Alkitab, akan tetapi konsepnya dapat kita temui di banyak bagian dari Alkitab, termasuk dalam ayat terakhir dari surat 2 Korintus ini. Rasul Paulus menyampaikan doa berkat bagi Jemaat Korintus di dalam nama Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Hal ini menunjukkan pengakuan rasul Paulus terhadap konsep Allah Tritunggal.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*