suplemenGKI.com

Jumat; 3 Desember 2010; Matius 3:1-6

Setelah memperkenalkan Yesus sebagai raja melalui silsilah-Nya di pasalnya yang pertama dan juga penyembahan serta persembahan orang Majus di pasalnya yang kedua, maka dalam pasalnya yang ketiga ini Matius melanjutkan tulisannya dengan menghadirkan Yesus sebagai Kristus, Yang Diurapi, yang merujuk pada kemesiasan Yesus. Apa yang dijelaskan oleh Matius berkenaan dengan hal ini? Dan pelajaran apa yang dapat kita dapatkan? Mari kita pelajari bersama-sama

- Mengapa pada waktu itu Yohanes tampil di padang gurun (ay. 1)? Kalau Yohanes adalah utusan Allah yang membawa berita penting mengapa dia tidak berada di Bait Allah saja?

- Mengapa Yohanes mengkhotbahkan “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (ay. 2)? Adakah relevansi khusus bagi orang-orang pada waktu itu?

- Mengapa Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, serta makan belalang dan madu hutan?

Renungan:

Kalau kita memperhatikan bagaimana Matius memberikan gambaran tentang Yohanes Pembaptis, maka kita akan melihat beberapa keunikan yang ada.

Pertama, lokasi pelayanannya. Yohanes Pembaptis memulai pelayanannya di padang gurun.  Sebenarnya padang gurun Yudea bukanlah padang gurun yang tanpa penghuni. Menurut kitab Yosua 15:61-62, padang gurun Yudea adalah wilayah yang cukup besar, karena ada enam kota beserta dengan desa-desanya di sana. Ada ahli kitab yang mengatakan bahwa di padang gurun Yudea itu ada komunitas religi yang disebut kaum Esen, dan diperkirakan Yohanes Pembaptis menjadi anggota kelompok ini. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis mengawali pelayanannya di padang gurun. Dengan demikian tepat pula apa yang dinubuatkan Yesaya, yang dikutip dalam ayat 3.

Kedua, berita khotbahnya. Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan. Topik pertobatan seringkali tidak disukai orang, karena khotbah semacam itu membuat orang terusik hati nuraninya. Namun Yohanes Pembaptis memang bukan datang untuk menyenangkan manusia, tetapi menyenangkan Allah. Kadang kita mengutamakan hidup damai dengan sesama tanpa mengingat apakah hal itu membuat kita hidup berdamai dengan Allah. Ada saat-saat di mana kita harus berani mengambil resiko untuk tidak berkompromi dengan sesama agar tetap berdamai dengan Allah.

Ketiga, gaya hidupnya. Yohanes Pembaptis digambarkan memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit. Hal ini sangat berbeda sekali dengan para imam. Meski Yohanes Pembaptis adalah keturunan imam, karena ia adalah anak imam Zakaria, tapi ia tidak mengenakan jubah panjang seperti yang biasa dipakai para imam pada waktu itu. Sebaliknya, ia mengenakan pakaian yang sama seperti dipakai Elia (2Raj. 1:8).

Dari sini kita dapat melihat totalitas pelayanan Yohanes Pembaptis. Ia tidak terjebak dengan format tradisi, tapi fokus pada misi yang harus dijalani. Bagaimana dengan kita?

“Totalitas pelayanan seseorang akan terlihat dari kesediaannya melepas segala bentuk rasa nyaman”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*