suplemenGKI.com

Jumat, 21 Januari 2011; 1 Korintus 2:6-16

Dalam perenungan kita kemarin, mata kita dibukakan tentang betapa bahayanya saat jemaat terjebak pada pengkotakan atau pengkultusan terhadap seseorang pemimpin. Karena hal itu berbuntut pada perpecahan yang sangat merugikan. Jemaat Korintus harus mengerjakan “PR’ yang serius agar mereka tidak jatuh ke dalam dosa perpecahan  itu.

  • Apa yang membuat jemaat Korintus mulai mengkotak-kotakkan diri?
  • Apa yang harus dilakukan/ dikerjakan oleh jemaat Korintus agar mereka tidak terjerembab dalam jurang perpecahan ?
  • Hal-hal/PR apa saja yang dinasihatkan oleh rasul Paulus untuk dikerjakan jemaat di Korintus sehingga mereka dapat kembali Theosentris/memusatkan perhatian dan hidup mereka kepada ALLAH? ( ayat 6-16)

Renungan:

Pada saat jemaat Korintus mulai mengkotak-kotakkan diri dan saling membanggakan kelompok serta pemimpinnya sebagai yang terhebat, tanpa disadari sesungguhnya mereka mulai bersandar kepada hal-hal duniawi, seolah meragukan kekuatan dan kesetiaan KRISTUS atas mereka. Dengan bersikap seperti itu, berarti mereka juga tidak lagi mengindahkan panggilan mereka sebagai orang yang seharusnya menjaga persekutuan yang erat dengan YESUS (lihat pasal 1:9). Tak heran jika kemudian sikap seperti inilah yang membuat jemaat Korintus berselisih dan mulai terpecah. Bagaimana memulihkan keadaan  ini? Secara garis besar, Rasul Paulus menasihatkan agar mereka kembali bersikap dan bertindak secara THEOSENTRIS supaya mereka dapat mengalami pemulihan. Dalam  rangka kembali Theosentris ini, maka ada beberapa PR yang harus dikerjakan oelh jemaat Korintus:

  • Pertama-tama , jemaat  diajak untuk memusatkan diri dan mencari hikmat yang sejati. Pada saat jemaat Korintus mulai mengkotak-kotakkan diri, mereka menyangka bahwa kelompok dan pemimpin mereka adalah yang paling berhikmat. Tanpa mereka sadari sebenarnya mereka telah memilih hikmat duniawi. Untuk itulah Paulus menegaskan agar mereka segera memandang YESUS sebagai sumber hikmat SEJATI DAN ILAHI (ayat 6-9)
  • Kedua, jemaat diajak untuk  menundukkan diri kepada kendali ROH ALLAH sendiri. Masalah yang dihadapi jemaat Korintus menjadi contoh kasus tentang betapa sulitnya hidup di dalam jalur kebenaran ALLAH. Tanpa pimpinan dan kendali ROH ALLAH, jemaat Korintus telah begitu mudah terpecah dan tidak bertumbuh dengan sehat (Ayat 10-15). Melalui ayat-ayat itu kita memperoleh penegasan bahwa tanpa kendali Roh ALLAH, jemaat tak akan memiliki kehidupan rohani yang benar. Dan tanpa kehidupan rohani yang benar maka jemaat akan mudah sekali terpecah manakala mereka mngalami berbagai perbedaan. Hanya Roh ALLAHlah yang mampu menyatukan, mendamaikan dan memulihkan sebuah hubungan.
  • Ketiga, jemaat diajak untuk kembali kepada panggilannya sebagai umat yang dikuduskan dan memiliki  pikiran Kristus (ayat 16). Sejak awal suratnya, Paulus menyebut mereka sebagai orang yang telah dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus (ayat 1:2). Untuk terus dapat menjaga panggilan mereka sebagai umat yang kudus di tengah dunia yang tidak kudus dan cenderung sarat dengan berbagai krisis kehidupan ini, maka tidak ada hal yang dapat dilakukan kecuali dengan  memiliki pikiran Kristus. Memiliki pikiran Kristus berarti  memiliki kesediaan untuk belajar menghadapi krisis kehidupan berdasarkan teladan/pola berpikir Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Kiranya “PR” itu juga menjadi bagian kita untuk mewujudkan kehidupan jemaat yang kembali Theosentris.

“Tiga PR untuk kembali menjadi Jemaat yang Theosentris:

Miliki Hikmat Sejati; tunduk pada kendali Roh ALLAH dan gunakan pikiran Kristus dalam mengarungi segala krisis.”


Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*