suplemenGKI.com

(Lukas 18 : 9-17)

Sebagai orang Kristen, kita sudah cukup akrab dengan pepatah yang mengatakan bahwa doa adalah nafas hidup orang percaya.  Pepatah ini dengan tepat melukiskan betapa pentingnya doa dalam kehidupan kita sehari-hari. Doa merupakan bagian pentingdari ibadah Kristen, baik ibadah umum pada hari Minggu atau kebaktian-kebaktian khususpada hari-hari lainnya.  Di dalam kehidupan pribadi orang Kristen, doa juga memiliki peran yang sangat penting.  Ketika menghadapi tantangan hidup yang semakin berat, kita berdoa dan berseru kepada Tuhan untuk memohon pertolongan-Nya.  Yesus juga mengajar para murid-Nya agar mereka “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk 18:1).  Namun demikian, selain perlu “banyak” berdoa, para murid juga perlu memperhatikan bagaimana sikap mereka ketika berdoa.  Karena itulah Yesus mengajak para murid-Nya membandingkan sikap doa seorang Farisi dan seorang pemungut cukai.

Dibandingkan dengan doa orang Farisi, doa si pemungut cukai ini sangatlah pendek dan sederhana.  Dia hanya berkata, “Ya Allah, kasihanilah Aku orang berdosa ini” (ay. 13).  Namun, justru dengan doa yang pendek dan sederhana inilah si pemungut cukai itu “dibenarkan Allah” (ay. 14).  Sementara itu, si orang Farisi yang datang dengan doa yang lebih panjang dan lebih lengkap justru tidak memperoleh apa yang diharapkannya.  Dari perbadingan ini, cukup jelas kiranya bahwa efektifitas sebuah doa tidaklah ditentukan oleh panjang-pendeknya doa tersebut, melainkan sikap hati orang yang berdoa.  Dengan doanya yang pendek dan sederhana, si pemungut cukai merendahkan dirinya dan mengakui dosa-dosanya sendiri.  Sementara itu, dengan doanya yang panjang dan lengkap, si orang Farisi justru meninggikan dirinya dan membeberkan dosa-dosa orang lain.  Meski dirangkai dengan kalimat-kalimat yang panjang dan indah, sebuah doa akan kehilangan arti bila dipanjatkan tanpa kerendahan hati.

Selain kerendahan hati, doa pendek si pemungut cukai, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,” juga mencerminkan imannya yangtulus dan murni.  Coba pikirkan lebih lanjut: Mengapa si orang Farisi ini berdoa dengan memamerkan kebaikan-kebaikannya sambil merendahkan orang-orang lain?  Sebenarnya cara ini juga digunakan oleh banyak orang sebagai sebuah strategi agar permohonannya dikabulkan.  Banyak orang yang berpikir bahwa manusia dapat “menyogok” Allah dengan sejumlah harta, atau dengan perbuatan-perbuatan baik, atau dengan melakukan kewajiban-kewajiban agamanya.  Namun, perumpamaan yang disampaikan Yesus jelas mengajarkan bahwa Allah tidak bisa disuap dengan semua itu.  Si orang Farisi yang datang sambil membawa semua kebaikannya justru ditolak oleh Allah.  Sedangkan si pemungut cukai yang datang dengan membawa semua dosa dan kekurangannya justru dibenarkan oleh Allah.  Ketika memanjatkan doanya, si pemungut cukai ini  hanya bersandar kepada kebaikan Allah, bukan pada kebaikan dirinya sendiri.  Melakukan berbagai macam kebaikan terhadap sesama atau terhadap Allah, tentu bukan sesuatu yang salah.  Namun, jangan hendaknya kita berpikir bahwa semua kebaikan kita itu dapat kita gunakan untuk menyuap Allah agar melakukan apa yang kita inginkan.  Iman yang sejati dimiliki oleh mereka yang bersandar kepada kasih ilahi, bukan pada kebaikan-kebaikan diri sendiri.

Selamat berdoa, selamat menikmati kebaikan-Nya.                                                          (TW)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*