suplemenGKI.com

Selasa, 2 Juni 2009
“INI AKU, UTUSLAH AKU!”
Yesaya 6:8

Pengampunan yang diberikan TUHAN kepada Yesaya melayakkan ia di hadapan-Nya. Kini, TUHAN yang maha kudus dan maha mulia memanggil Yesaya untuk diutus sebagai nabi-Nya.

Ayat 8: Apakah pengaruh anugerah pengampunan terhadap jawaban Yesaya atas panggilan pengutusan dalam ayat ini? Jika TUHAN memanggil dan mengutus Saudara menjadi hamba yang melayani-Nya, apakah jawaban Saudara?

Renungan
Pengalaman Yesaya berada di hadirat TUHAN yang maha kudus dan maha mulia sungguh mempesona. Ini meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan. Apalagi pengalaman mempesona itu juga merupakan perjumpaan dengan TUHAN, Sang Pengampun. Pengampunan itu melahirkan hati yang penuh syukur.
Setelah Yesaya diampuni atas segala kesalahannya dan disucikan dari kenajisannya, maka dengan penuh syukur, ia siap menerima tugas yang TUHAN berikan. Tugas panggilan itu diberikan TUHAN tidak dalam bentuk perintah mutlak, melainkan dalam bentuk tawaran dan tantangan kepada Yesaya.
Yesaya memberi jawaban secara spontan, dengan tekad bulat serta penyerahan diri yang total. “Ini aku!” menunjuk kepada seluruh kepribadian dan kemampuan yang ada pada dirinya. Kini ia siap menyerahkan diri bagi tugas pengutusan Ilahi.
Sebenarnya TUHAN juga sudah mempersiapkan Yesaya untuk menjadi utusannya. Saat Serafim menyentuh mulut Yesaya dengan bara api dari mezbah, mulut Yesaya dimurnikan dan diberanikan untuk memberitakan Firman TUHAN. Jadi Yesaya disucikan dan disiapkan untuk mengemban tugas pengutusannya.
Tugas panggilan menjadi utusan TUHAN di tengah dunia juga ditujukan kepada setiap orang Kristen. Saat ini TUHAN menantikan respon yang tegas dan rela dari umat-Nya. Siapkah Saudara diutus oleh TUHAN menyampaikan terang Firman TUHAN kepada dunia yang sedang membutuhkan tuntunan? Banyak orang mengalami pergumulan yang berat dan memiliki banyak alasan ketika dipanggil untuk menjadi utusan (hamba) TUHAN. Mampukah Saudara menjawab panggilan tugas ini dengan jawaban yang tegas dan sukacita? Ataukah juga masih banyak alasan yang ingin Saudara ajukan?
Jangan ragu menjawab panggilan pengutusan. Setiap orang yang diutus oleh TUHAN sesungguhnya telah dipersiapkan oleh TUHAN. Karenanya jawablah: “ Ini aku, utuslah aku!”.
Akhiri perenungan hari ini dengan menyanyi PKJ 177
AKU, TUHAN semesta. Jeritanmu Ku-dengar.
Kau di dunia yang gelap ‘Kuslamatkan”.
AKU-lah Pencipta t’rang; malam jadi benderang
Siapakah utusan-KU membawa trang?
Refrein: Ini aku, utus aku! Ku dengar ENGKAU memanggilku
Utus aku; tuntun aku. Ku- prihatin akan umat-MU.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*