suplemenGKI.com

Selasa, 14 Juni

Kejadian 1:26 – 2:4

Manusia memang berbeda dengan ciptaan yang lainnya, karena sebagai ciptaan, manusia memiliki keunikan yang tidak ada pada ciptaan lainnya. Keunikan itu tidka terletak pada proses penciptaannya saja, melainkan juga sesudahnya. Hal ini biasanya luput dari perhatian kebanyakan orang, tapi kali ini mari kita perhatikan keunikan tersebut secara utuh.

- Menurut Saudara, apakah artinya manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? Bagaimanakah hubungan antara kisah tentang penciptaan manusia ini dengan mandat yang diberikan kemudian, yaitu: “taklukkanlah … berkuasalah”?

- Apakah Saudara percaya bahwa Allah adalah pribadi yang tak terbatas dalam segala hal? Kalau ya, mengapa Allah beristirahat?

Renungan:

Kisah penciptaan manusia berbeda dengan kisah penciptaan alam semesta beserta dengan segala isinya. Ada beberapa perbedaan yang dapat dikatakan sebagai keunikan terkait dengan penciptaan manusia. Mari kita perhatikan beberapa keunikan tersebut.

Pertama, sementara semua ciptaan yang lain diciptakan dengan format “Berfirmanlah Allah … jadilah … dan jadilah demikiian”, tidak demikian halnya dengan penciptaan manusia. Kisah penciptaan manusia diawali dengan cerita tentang gagasan Allah dalam menciptakan manusia. Allah memutuskan untuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri.

Kedua, setelah manusia diciptakan, Allah memberikan mandat kepadanya untuk beranak cucu memenuhi dan menaklukkan bumi, serta berkuasa atas segala ciptaan lainnya. Mandat ini tidak dapat dipisahkan dari rencana Allah menciptakan manusia, sebab memang dengan maksud itulah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas…” (ay. 26).

Ketiga, setelah menciptakan manusia serta memberi mandat kepadanya, Allah beristirahat. Ini bukanlah kalimat yang menyatakan bahwa Allah kelelahan setelah menciptakan alam semesta, melainkan harus dilihat sebagai bagian dari proses penciptaan. Allah adalah pribadi yang mahakuasa. Dia tidak akan pernah merasa lelah sehingga membutuhkan waktu untuk istirahat serta memulihkan stamina. Sebab Dia adalah Allah yang perkasa (Yes. 9:5). Namun demikian Dia beristirahat setelah menciptakan segala sesuatunya, khususnya setelah menciptakan serta memberi mandat kepada manusia.

Dari rangkaian ini kita dapat melihat bahwa pada dasarnya bekerja merupakan bagian dari gambar dan rupa Allah yang ada di dalam diri manusia. Dengan demikian bekerja bukanlah suatu beban yang patut disesali, melainkan harus dipandang sebagai anugrah yang patut disyukuri. Terkait dengan tanggungjawab bekerja ini, maka manusia juga diberi waktu untuk beristirahat. Dengan kata lain hari ketujuh tidak dapat dilihat sebagai hari di mana manusia boleh bermalas-malasan, melainkan sebagai sarana pemulihan diri agar dapat bekerja dengan lebih baik lagi. Dalam proses pemulihan ini yang menjadi fokus utamanya adalah bagaimana manusia mempererat hubungan pribadinya dengan Tuhan, sebagaimana yang tercantum dalam hukum keempat.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*