suplemenGKI.com

Yakobus 1:17-27

 

            Alkisah ada seorang nenek tua yang hidup sebatang kara. Sehari-hari dia hanya ditemani oleh seekor anjing yang setia. Nenek tua ini mempunyai burung piaraan yang sangat disayanginya. Suatu hari, si nenek harus pergi ke kota untuk sebuah urusan, maka diapun menitipkan burung piaraan itu pada anjingnya agar dijaga baik-baik. Namun betapa kaget si nenek, tatkala ia pulang ke rumah, baru sampai di depan pintu dia melihat mulut anjingnya itu berlumuran darah. Serta merta si nenek naik darah, dia yakin bahwa anjingnya baru saja memangsa burung kesayangannya. Lalu iapun meraih batang kayu dan memukuli anjing itu. Sesaat  sebelum dia menghajar anjingnya, dia sempat mendengar teriakan seorang anak kecil, tapi dia tak menghiraukannya. Akibat dipukuli dengan bertub-tubi, anjing itupun terkulai lemas….dan mati. Dengan terengah-engah si nenek terduduk di lantai, dan tiba-tiba dia mendengar kicauan burung kesayangannya. Perlahan dia menuju ke sangkar burung itu dan matanya terbelalak melihat bangkai seekor ular ada di dekat sangkar burung itu. Wajah si nenek menjadi pucat dan tubuhnya lemas. Seorang anak kecil mendekat dan berkata,”Nek, tadi saya berteriak untuk memberitahu nenek bahwa anjing kesayangan nenek baru saja membunuh seekor ular yang akan memangsa burung itu, tapi nenek tidak mau mendengar.” Nasi telah menjadi bubur, semuanya sudah terlambat, sang nenek tak bisa menghidupkan anjing kesayangannya kembali. Andai ia mau menahan diri sejenak dan mendengar teriakan anak kecil itu, tentu anjing itu tidak mati sia-sia.

            Kisah tragis yang dialami nenek itu memberi pelajaran bagi kita tentang pentingnya sebuah pengendalian diri. Tema pengendalian diri inilah yang sedang diangkat oleh Yakobus ketika dia berkata,”……. setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata…” (ayat 19). Mengapa Yakobus memandang penting pengendalian diri? Paling tidak, ada 2 alasan yang terungkap melalui Yakobus 1:17-27 ini, antara lain:

  1. Karena ALLAH menghendaki kita menjadi anak-anak yang memiliki kualitas rohani yang baik, salah satunya melalui kesanggupan mengendalikan diri (ayat 17-18)
  2. Karena ketidakmampuan  mengendalikan diri hanya akan mendatangkan masalah dan dosa, baik di hadapan ALLAH maupun sesama (ayat 20-21)

 

            Mari kita mengambil komitmen untuk “mengendalikan diri” dengan cara “cepat mendengar, tapi lambat berkata-kata”, agar kita dapat membangun sebuah karakter kristiani yang berkenan kepada TUHAN. Dan dengan pengendalian diri itu, kiranya kita dimampukan untuk menjadi saksi Kristus yang memberkati orang-orang di sekitar kita.

Amin!!

 

-RaZaMu-

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*